outing class 2011

Outing Class diselenggarakan sekitar bulan juni 2011

Tujuan utama adalah

1.  Memperkenalkan anak dengan dunia luar/sesungguhnya yang sesuai kondisi

di lapangan kerja ,

2.  Mengetahui adanya perkembangan ilmu pengetahuan yg baru guna

mendukung pembelajaran yang akan digunakan untuk kerja kelak

3. Melatih siswa dalam berempati, ahklak, bersosialisasi dlm kegiatan

Kunjungan industri

Kegiatan diagendakan mengunjungi  :

1.   Lembah Hijau Multifarm (LHM) Mojolaban  Sukoharjo

2.   KAP Wartono

3.   Museum Radyapustaka, Surakarta

4.   Museum Sangiran, Sragen

Tujuan yg dikunjungi kemungkinan akan selalu disuaikan dgn kebutuhan

industri :

1.  Lembah Hijau Multifarm (LHM) Mojolaban Sukoharjo

2011 lembah hijau

DSC00728

Lembah Hijau Multifarm(LHM)

Aktivitas agrobisnis telah di lakukan oleh Lembah Hijau Multifarm(LHM) sejak tahun 1981, mulai berdiri sebagai perusahaan agrobisnis pada tahun 1985 dengan nama  CV. Lembah Hijau Multifarm, yang di pimpin oleh Ir. Suharto, MS yang juga berprofesi sebagai pendidik. Kegiatan LHM meliputi kegiatan usaha sebagai berikut:

  1. Peternakan Sapi Perah.
  2. Pertanian.
  3. Perikanan.
  4. Pengembangan Bioteknologi StarbiO

Usaha perternakan sapi perah yang dilakukan berintegrasi dengan usaha pertanian dan perikanan. Pemanfaatan sumber daya lokal secara maksimal merupakan landasan yang dilakukan oleh LHM, sehingga merupakan sebuah Integrated Farming System

 1.  StarbiO Plus, hasil riset terbaru dari LHM Research Station, berupa serbuk pemangsa limbah yang bekerja secara alamiah, aman bagi lingkungan, praktis dan ekonomis.

2. StarbiO Plus, berupa koloni bakteri yang diisolasi dari alam, bersifat bersahabat dengan kehidupan (probiotik).

3. StarbiO Plus, bekerja seperti ikan memangsa dan menguraikan tinja (limbah organik). Hasilnya tinja menjadi cair sehingga mudah diserap oleh tanah resapan, dan baunyapun lenyap.

MANFAATNYA
1. Menurunkan 60-70% tinja pada Septic-Tank dalam waktu 7-10 hari dan menghilangkan baunya.
2. Merawat tanah resapan agar selalu berfungsi dengan baik.
3. Mencegah mampatnya saluran cucian piring, kamar mandi dan selokan, sekaligus menghilangkan bau.
4. Menetralisis limbah industri.

CARANYA
• Untuk merawat WC, dosis 1 kg untuk 1-2m3 volume Septic-Tank atau melalui Closet sedikit demi sedikit. Dapat juga dengan melarutkan dahulu pada 1-2 ember air sebelum digunakan. WC tetap dapat dipakai seperti biasa. Ulangi setiap 3-6 bulan.
• Untuk perawatan saluran/menghilangkan bau. Rendamlah 1 sendok makan StarbiO Plus dengan 250cc air (dosis dapat ditambah) selama 12-24jam, lalu siramkan ke saluran/selokan pada malam hari saat tidak ada kegiatan

COCOK UNTUK
Rumah tangga • Rumah Susun/Apartemen • Rumah Sakit • Restoran • Catering • Hotel • Perkantoran • Pertokoan/Plaza • Terminal • WC • Peternakan • Rumah Potong • Hewan • Pabrik • dsb

2      KAP Wartono

DSC01624

Disini anak melakukan tanya jawab seputar kegiatan melakukan auditor

laporan keuagan dari badan usaha bisa, manufaktur, industri, maupun jasa

&  mereka antusias sekali tentang kegiatan yg berhub dgn lap keuangan.

3.   Museum Radyapustaka

Sejarah radyapustaka

Museum ini didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV di dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890. Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Pakubuwono IX dan Pakubuwono X. Museum ini lalu dipindahkan ke lokasinya sekarang ini, Gedung Museum Radyapustaka di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, pada 1 Januari 1913. Kala itu gedung museum merupakan rumah kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar.

Status hukum

Museum Radya Pustaka tidak berada di bawah naungan Dinas Purbakala maupun Dinas Pariwisata Pemerintahan Daerah setempat namun berstatus yayasan. Yayasan ini bernama Yayasan Paheman Radyapustaka Surakarta dan dibentuk pada tahun 1951. Lalu untuk tugas pelaksanaan sehari-hari dibentuk presidium yang pertama kalinya pada tahun 1966 diketahui oleh Go Tik Swan atau juga dikenal dengan nama K.R.T. Hardjonagoro.

Halaman depan

Di halaman depan, di depan gedung museum, para pengunjung akan menjumpai sebuah patung dada R. Ng. Rangga Warsita. Ia adalah seorang pujangga keraton Surakarta yang sangat termasyhur dan hidup pada abad ke-19. Patung ini diresmikan oleh presiden Soekarno pada tahun 1953. Di depan dan di belakang patung ini terdapat prasasti yang menggunakan aksara Jawa.

Lalu di serambi museum ada beberapa meriam beroda dari masa VOC yang berasal dari abad ke-17 dan ke-18. Sementara itu ada pula beberapa meriam-meriam kecil milik Keraton Kartasura. Selain itu terdapat pula beberapa arca-arca Hindu-Buddha. Antara lain terdapat arca Rara Jonggrang yang artinya adalah “perawan tinggi” namun sebenarnya adalah arca Dewi Durga. Selain itu ada pula arca Boddhisatwa dan Siwa. Arca-arca ini ditemukan di sekitar daerah Surakarta.

Koleksi

Museum Radya Pustaka memiliki koleksi yang terdiri dari berbagai macam arca, pusaka adat, wayang kulit dan buku-buku kuno. Koleksi buku kuna yang banyak dicari itu di antaranya mengenai Wulang Reh karangan Pakubuwono IV yang isinya antara lain mengenai petunjuk pemerintahan dan Serat Rama karangan Pujangga Keraton Surakarta bernamaYasadipura I yang menceritakan tentang wiracarita Ramayana.

Kyai Rajamala                  

Berada di kamar bagian barat terdapat sebuah patung kepala raksasa yang terbuat dari kayu dan merupakan hasil karya Pakubuwono V ketika beliau masih seorang putra mahkota. Patung tersebut jumlah sebenarnya adalah dua: yang satu lainnya disimpan di Keraton Surakarta. Patung ini ialah hiasan depan sebuah perahu yang dipakai untuk mengambil permaisuri Pakubuwono IV yang berasal dari Madura. Sampai sekarang patung ini masih dianggap keramat dan sering diberi sesajian

4.   MONUMEN MANUSIA PURBA, SANGIRAN

m sangiran

Salah satu objek wisata menarik di Kabupaten Sragen adalah Museum Sangiran yang berada di dalam kawasan Kubah Sangiran. Kubah tersebut terletak di Depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (kurang lebih 17 km dari Kota Solo).

Kehadiran Sangiran merupakan contoh gambaran kehidupan manusia masa lampau karena situs ini merupakan situs fosil manusia purba paling lengkap di Jawa. Luasnya mencapai 56 km2 yang meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, yaitu Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh, serta satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar, yaitu Kecamatan Gondangrejo.

Sangiran merupakan situs terpenting untuk perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan terutama untuk penelitian di bidang antropologi, arkeologi, biologi, paleoantropologi, geologi, dan tentu saja untuk bidang kepariwisataan. Keberadaan Situs Sangiran sangat bermanfaat untuk mempelajari kehidupan manusia prasejarah karena situs ini dilengkapi dengan fosil manusia purba, hasil-hasil budaya manusia purba, fosil flora dan fauna purba beserta gambaran stratigrafinya.

Sangiran dilewati oleh sungai yang sangat indah, yaitu Kali Cemoro yang bermuara di Bengawan Solo. Daerah inilah yang mengalami erosi tanah sehingga lapisan tanah yang terbentuk tampak jelas berbeda antara lapisan tanah yang satu dengan lapisan tanah yang lain. Dalam lapisan-lapisan tanah inilah yang hingga sekarang banyak ditemukan fosil-fosil manusia maupun binatang purba.

Beberapa fosil manusia purba disimpan di Museum Geologi, Bandung, dan Laboratorium Paleoantropologi, Yogyakarta. Dilihat dari hasil temuannya, Situs Sangiran merupakan situs prasejarah yang memiliki peran yang sangat penting dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia.

Berdasarkan hal tersebut, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia Nomor 593 oleh Komite World Heritage pada saat peringatan ke-20 tahun di Merida, Meksiko.

sangiran_kapal.jpg

                               MINIATUR HMS BEAGLE  (KAPAL DARWIN)

Penelitian tentang manusia purba dan binatang purba diawali oleh G.H.R.Von Koenigswald, seorang ahli paleoantropologi dari Jerman yang bekerja pada pemerintah Belanda di Bandung pada tahun 1930-an. Beliau adalah orang yang telah berjasa melatih masyarakat Sangiran untuk mengenali fosil dan cara yang benar untuk memperlakukan fosil yang ditemukan. Hasil penelitian kemudian dikumpulkan di rumah Kepala Desa Krikilan, Bapak Totomarsono, sampai tahun 1975.

Pada waktu itu banyak wisatawan yang datang berkunjung ke tempat tersebut, maka muncullah ide untuk membangun sebuah museum. Pada awalnya Museum Sangiran dibangun di atas tanah seluas 1.000 m2 yang terletak di samping Balai Desa Krikilan. Sebuah museum yang representatif baru dibangun pada tahun 1980 karena mengingat semakin banyaknya fosil yang ditemukan dan sekaligus untuk melayani kebutuhan para wisatawan akan tempat wisata yang nyaman. Bangunan tersebut seluas 16.675 m2 dengan ruangan museum seluas 750 m2.

Bangunan tersebut bergaya joglo dan terdiri dari ruang pameran, aula, laboratorium, perpustakaan, ruang audio visual (tempat pemutaran film tentang kehidupan manusia prasejarah), gudang penyimpanan, mushola, toilet, area parkir, dan kios suvenir (khususnya menjual handicraft ‘batu indah bertuah’ yang bahan bakunya didapat dari Kali Cemoro).

Di Museum Sangiran terus dilakukan pembenahan dan penambahan bangunan maupun fasilitas pendukung untuk mempertegas keberadaannya sebagai warisan dunia yang memiliki peran penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun untuk menciptakan kenyamanan bagi para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini. Museum Sangiran sekarang telah berevolusi menjadi sebuah museum yang megah dengan arsitektur modern.

sangiran_koleksi.jpg

                                                   REPLIKA FOSIL MANUSIA

Koleksi Museum Sangiran
Berikut ini adalah beberapa koleksi yang tersimpan di Museum Sangiran:

  1. Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus (replika), Pithecanthropus mojokertensis (Pithecanthropus robustus) (replika), Homo soloensis (replika), Homo neanderthal Eropa (replika), Homo neanderthal Asia (replika), dan Homo sapiens.
  2. Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinoceros sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).
  3. Fosil binatang laut dan air tawar, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Moluska (kelas Pelecypoda dan Gastropoda), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera.
  4. Batuan, antara lain rijang, kalsedon, batu meteor, dan diatom.
  5. Artefak batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak.

Sumber: Brosur ‘Museum Purbakala: Situs Sangiran (Perjalanan Menakjubkan Kembali ke Zaman Purba)’ (Kantor Pariwisata, Investasi, dan Promosi, Pemerintah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah)

Alamat:
MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN
Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe
Kabupaten Sragen
Jawa Tengah

2011 sangiran 2

2011 sangiran

sejarah manusia

sangiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s